Pasang Iklan Disini!

Ramadhan di Era Digital: Menjaga Khusyuk di Tengah Notifikasi Tanpa Henti

Ramadhan dulu mungkin identik dengan suara bedug, lantunan tadarus dari masjid, dan suasana sore yang tenang menjelang berbuka. Sekarang? Tambah satu lagi: bunyi ting! notifikasi.


Grup keluarga rame. Flash sale menjelang buka. Reminder meeting. Update status teman. Belum lagi algoritma media sosial yang seperti tahu kapan kita lagi “lemah iman” lalu menyuguhkan konten yang bikin lupa waktu.

Pertanyaannya: gimana caranya tetap khusyuk di era digital seperti sekarang?

Yuk kita ngobrol santai soal ini.

1. Ibadah vs Notifikasi: Siapa yang Lebih Sering Kamu Respons?

Coba jujur sebentar.

Kalau lagi shalat lalu HP berbunyi (walaupun silent tapi getar), fokusnya masih utuh?
Atau pikiran sudah mikir, “Siapa ya yang chat?”

Di era sekarang, distraksi bukan cuma suara, tapi rasa ingin tahu. Kita merasa harus selalu responsif. Seolah-olah kalau tidak membalas cepat, kita tertinggal sesuatu.

Padahal Ramadhan itu momen melatih pengendalian diri. Bukan cuma menahan lapar, tapi juga menahan dorongan untuk selalu terkoneksi.

Kadang yang perlu ditahan bukan haus tapi scrolling.

2. Puasa Digital Itu Nyata (Dan Perlu)

Kita sering dengar istilah “detoks media sosial”. Tapi di bulan Ramadhan, konsep ini jadi lebih relevan.

Bukan berarti harus hilang total dari dunia maya. Banyak juga kok kebaikan yang datang dari sana:

  • Kajian live streaming
  • Pengingat waktu shalat
  • Aplikasi Al-Qur’an digital
  • Konten dakwah yang mencerahkan

Masalahnya bukan di teknologinya. Tapi di cara kita menggunakannya.

Coba mulai dengan hal kecil:

  • Matikan notifikasi yang tidak penting
  • Batasi waktu scrolling setelah sahur
  • Jangan buka media sosial sebelum tadarus

Anggap saja ini bagian dari latihan disiplin spiritual.

3. Khusyuk Itu Soal Ruang dan Fokus

Khusyuk bukan cuma soal hati, tapi juga lingkungan.

Kalau kita mau fokus kerja, biasanya cari tempat yang tenang. Begitu juga dengan ibadah. Jangan berharap bisa khusyuk kalau satu tangan pegang tasbih, tangan satunya lagi pegang HP.

Bikin “zona suci” di rumah:

  • Area shalat tanpa HP
  • Waktu tertentu tanpa internet
  • Satu jam sebelum tidur khusus untuk refleksi

Ramadhan itu cuma sebulan. Masa iya kalah sama notifikasi yang bisa dimatikan dalam 3 detik?

4. Jangan Sampai Ibadah Jadi Konten

Ini yang agak sensitif, tapi penting.

Sekarang semua bisa jadi konten:

  • Foto mushaf terbuka
  • Video tadarus
  • Selfie sebelum tarawih
  • Story sedekah

Tidak salah berbagi kebaikan. Tapi kadang tanpa sadar, niat kita bergeser. Dari ingin mendekat kepada Allah, jadi ingin terlihat sedang mendekat.

Coba sesekali lakukan ibadah yang tidak dipublikasikan sama sekali.
Yang tidak ada jejak digitalnya.
Yang cuma kamu dan Tuhan yang tahu.

Rasanya beda.

5. Gunakan Teknologi untuk Mendekat, Bukan Menjauh

Era digital bukan musuh Ramadhan. Justru bisa jadi alat.

Banyak ulama sekarang berdakwah lewat platform online. Kajian bisa diakses dari mana saja. Al-Qur’an ada di genggaman.

Contohnya, ceramah-ceramah dari Abdul Somad atau Adi Hidayat yang mudah diakses lewat YouTube dan platform streaming lainnya. Bahkan murottal dari Mishary Rashid Alafasy bisa jadi teman perjalanan menuju kantor.

Teknologi itu netral. Yang menentukan arahnya adalah kita.

Kalau sehari bisa 2 jam scrolling hal random, kenapa tidak 30 menit dipakai untuk kajian?

6. Ramadhan Itu Tentang Mengembalikan Kendali

Di luar Ramadhan, kita sering merasa dikendalikan:

  • Algoritma
  • Deadline
  • Trending topic
  • FOMO

Ramadhan datang seperti tombol reset.

Ia mengingatkan bahwa kita bisa memilih:

  • Mau balas chat sekarang atau nanti
  • Mau buka aplikasi atau buka mushaf
  • Mau lanjut scroll atau lanjut dzikir

Kontrol itu ada di tangan kita.

Penutup: Diam Itu Mewah

Di tengah dunia yang berisik, diam itu jadi mahal.

Ramadhan mengajarkan kita untuk menikmati jeda. Jeda dari makan. Jeda dari marah. Dan mungkin… jeda dari notifikasi.

Tidak perlu ekstrem. Tidak perlu anti teknologi.
Cukup sadar dan seimbang.

Karena pada akhirnya, yang kita cari di bulan ini bukan koneksi internet yang stabil.
Tapi koneksi hati yang lebih kuat.

Semoga Ramadhan kali ini bukan cuma lebih produktif secara digital, tapi juga lebih dalam secara spiritual. 🌙

Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar

(AD) In-Feed
Iklan Sticky